Kamis, 22 Desember 2011

Menjemput Puisi


Belum kutemukan cara melupakanmu
sungai kecil berair bening
bebatuan menanti kecupan
dan sepasang capung menari-nari
dan matamu,
yang tak pernah redup bagai mentari
memandang sunyi pada gemericik arus
menyeret hayal kita pada jeramnya
sore ini,
aku ingin mengenangmu
pada liukan asap rokokku
atau pada pancuran di kamar mandi
kupuaskan hingga menggigil
esok,
aku akan kembali  ke sungai kecil
walau tak pasti riaknya masih menari
sebab ku tahu kau telah jauh
akan kujemput sebuah puisi
pada bebatu yang masih setia.
(22 Desember 2011)

Untuk Suami Ibuku

Apa yang kau lakukan setelah bangun tidur di pagi hari

mandi, gosok gigi, seraya membiarkan bokongmu menyumpahi kloset

kemudian keluar bertelanjang dada sambil bersiul pongah menjumpai cermin

berlaga senyum dengan bayangmu yang letih membeo di sisi maya

sungguh rutinitas menjemukan yang biasa...



Seperempat jam kemudian,

sedikit tergopoh, kau selesaikan setelan seragam kebanggaanmu

menyetel gesper, angkat ketiak, semprat semprot

kembali jumpai cermin, senyam-senyum, narsis, gila

sungguh gaya memuakkan yang hilang ingatan...



Pulang menjelang malam

raga penat, mata ngantuk

tertidur di depan tivi

dinding menggeleng-geleng

ck..ck..ck..ck..ckk

sungguh perulangan yang menjemukan

eits...kau lupa

ada anak yang butuh bimbingan

ada kekasih yang perlu belaian

sementara kau t'lah jauh di alam mimpi



Bangun pagi,

kembali mandi,gosok gigi, lagi bokongmu menyumpahi kloset

bergegas terburu-buru

katamu waktu telah memburu

eits...

kau lupa telah seribu pagi

berulang tak berjeda





Cobalah!:

putar ulang waktumu

sejenak, ya sejenak saja

bertelanjanglah di depan cerminmu

tanpa handuk dan sehelai benangpun

bercakap-cakaplah dengan hatimu

maknai hidupmu yang seperti mesin

temukan dirimu yang :

   alpa mencium kening anak-anakmu setiap pagi

   lupa menyapa kekasih hatimu ditengah malam

   tak pernah keluar dari ruang tapa hingga hari menua





"Bangun ! Dan keluarlah ! Temukan sekelilingmu yang menantinanti...!



<hidup bukanlah sekedar perulangan...>



"Selamat Hari Ibu...."



201211

Oh...

Kuakui bahwa aku belum pernah menikmati manisnya racunmu
tapi masih saja kupelihara diam-diam di pucuk hayalku
walau kutahu kau tak pernah datang mengundangku
tapi bersikeras aku pada egoku
hingga menjadi dua sisi rupaku
                                         II
Berjuang aku untuk lurus di perjalanan
di kejauhan mereka melakukannya tanpa berbeban
karena tak ada yang istimewa pada langit yang bersisik ikan
aku saja yang melihatnya sebagai keajaiban
ketika ditanya aku juga tak pernah paham
                                         III
Kutatap lagi langit dengan heran
burung-burung terbang tak berbeban
kenapa aku selalu rajin menagih kenangan
padahal semesta selalu menawarkan pilihan
tak berbayar dan begitu menawan
oh...
(22Desember2011)

x

Sabtu, 17 Desember 2011

Nelayan Dan Ikan Keramat

Oh nelayanku...
Melautlah dengan semangat
Tepat pada senja yang semakin sekarat
Bawa bekal doa sanak kerabat
Arungi samudera dan selat
Esok merapat dengan selamat
Dermaga menanti meratapratap
Berharap kau bawa ikan keramat
'Tuk kau jadikan jimat
Agar hidupmu tak lagi melarat...

 

Senin, 05 Desember 2011

Kujelang Kau Di Pusaran Air



Galauku menggantung di pucuk nyiur yang resah dihalau angin
kujumput harapan yang tececer di butiran pasir
akan janji yang pernah kau titip pada karang di pantai ini

aku berdiri ketika matahari berlari mengejar senja yang terburu buru
gerombol domba putih menggulung-gulung di cakrawala
ombak masih memukul-mukul pantai dengan irama tak pasti
getarnya menusuk sampai ke hati
kutunggu kau pada setiap riak
kuharap kau di setiap kepakan camar
yakinku gitar tak akan ingkar pada senar
yang masih setia menggema nada di relung dada

garis pantai kini kian samar
ketika mentari terendam sebagian
kulihat kau lambaikan selampai
dalam nanar kukenali warnamu
dalam temaram ku akrab aromamu
tak sabar kujelang dengan gerakan tiga perempat

seketika aku di pusaran air
memeluk pelangi tubuhmu berpendar serupa cahaya
tarianmu menuntunku meliuk membentuk putaran
diiringi irama laut yang tiada risau
menari dan menari...
berputar dan berputar...
jelang dasar samudera
damai...
sunyi...
lalu aku hilang...

<aku berakhir di pantai galau...05/12/11>

Tuhan Jantung Dan Hatiku Tidak Salah...

Jantung belum berhianat untuk berhenti berdegup

Walau hati sering  cemburu karenanya

Tak mudah mendamaikan keduanya; jantung masih setia, sementara hati luka menganga oleh rasa yang hilang kendali.

Terbersit untuk memisahkan keduanya dari dada hingga raga terberai

Keluar dari rumah cintaNya...

Namun pintuNya selalu terbuka bagiku untuk kembali

Pada waktu yang tidak pernah dituntut untuk dikembalikan
walau kupenuhi dengan kebohongan.

Rumah cintaMu terlalu besar untuk ku sembunyi, ketika kumerasa telah pergi ternyata masih di beranda.

Nistanya aku yang mencipta noda pada lantai yang putih, sesaknya aku oleh nafasku sendiri yang busuk. 

Oh tidak, salahkan aku telah miliki jantung ini

salahkan aku telah agitasi hati ini

Tapi siapakah aku hingga berani menuntutMu?

Atau hilangkan saja aku...

S'bab hati dan jantungku tak pernah berbuat salah, berikan mereka pada yang lain...

Sabtu, 26 November 2011

Ayolah Nak...!


Ayolah nak...
lekaslah terjaga ketika genta di dinding berdentang lima kali
jangan sesekali menunggu enam karena seketika pedang cahaya akan mengoyak jendela
berkemaslah mandi sadarkan hati bahwa tak ada waktu lagi
bersegera kenakan seragam bijak
kita berangkat mengejar matahari sebelum ia meninggi
aku mengejar ekornya kau mengintai mahkotanya
titipkan cemasmu pada ibumu agar dirubah menjadi doa
menuju siang yang penuk teka teki

Ayolah nak...
kunci ragumu di dalam peti warisan ayahku
kenakan mantel cinta seperti yang kuberi pada ibumu
aku takkan menuntut balas
tapi jangan meminta tujuh s'bab aku cuma punya enam

Ayolah nak...
retas semangatmu
tujuh kali tujuh sepanjang minggu
karena yakinku t'lah kutularkan pada putihmu
seperti ketika kau bayi kecil, saat kau tak berdaya seusai seloki kuman jinak dijejalkan mereka ke nadimu, tubuhmu panas seperti eraman induk ayam, matamu berkata pada mataku berharap aku berbuat banyak dan kujawab: "Ayolah nak ! bertahanlah, ini untuk menguatkanmu..., ini memang harus dilalui...inilah dunia..."

Ayolah nak...
ukir imajimu di langit yang biru
gantungkan inginmu pada pilar cahaya
karena ibumu berharap banyak, juga aku
ku ingin saksikan kau sanding permata pada serambi rumah kita yang menyalanyala

Ayolah nak...
segera pulang ketika senja
asap kuali ibumu memanggil kita...


26/11/11





Rabu, 23 November 2011

Kubenci Sepotong Bibir Pada Senin Pagi

#1 senin pagi
kutemukan sepotong bibir beku di meja kerjaku
kuunjuk simpati, namun ia menyembur api membakar telinga hingga aku tak bertelinga
kucoba menyela, ia berubah naga
menelan habis wajahku yang pasi jadikan aku tak bermuka
menyerang secepat kilat setajam belati menusuk ulu hati hingga aku sekarat
hambarkan manis sisa akhir pekanku yang masih menarinari

#2 senin siang

kucoba tuntaskan tumpukan beban yang kian tambun
bibir beku tak jua beri acungan
bahkan giat menyumpah mematri perih sekeliling dinding
pongah mencibir tanpa empati
ingin kusikut sampai dia keriput kecut atau kuhimpit dengan penjepit

#3 senin sore

potongan bibir berhasil kuronce
sebentuk giwang gantungan konde
kurajang ia bagai sate, tak kuampun walau seronde
hingga khilafku berbuah hore
sepiring puas kini milikku walau aku kehilangan mentari sore
( i really don't like monday)

mejakerja21/11/11

Senin, 21 November 2011

 Pantun ini telah dimuat di halaman www.letterater.com dan ini hanya buat seru-seruan aja.

Bang Noeel G-oleh maju selangkah---

Layang layang si benang panjang
terbang kelangit dicakar setan.
bukanya dari dulu sudah kubilang bang,
kasih sayang itu sulit dibuktikan.

burung balam hinggap di tongkat,
tongkatnya jatuh burungnya terbang,
beli pulsa ndak harus jual pesawat
tapi Call ny kemana abanaaaaang..


kalau hendak membeli meja,
belilah meja yang berkaki tiga,
aduh bang jangankan rumah dan perabotnya ,
sorganya neraka tak gratisin aja...

wadduh..bang  Noeel G Sempoyongan...



Jurus yang satu ini Khusus buat bunda RD. Kedum

Buah nangka banyak getahnya ,
jambu mete  dn buah bunga matahari,
karena pria punya selera,
sedikit matre ndak papa, itupun demi anak istr.i
Satu...dua...tiga.....K O Semua,,, (Suroyo Agus K.K.)



aku bales neh....

putihnya pita kain belacu
baru dibeli di pasar kenari
buktikan cinta dengan tingkah laku
sanjung dan belai setiap hari


payau airnya teluk kuali
mandikan kerbau di sore hari
kalau memang niat di hati
nomerku pasti akan kau cari

kayu benalu di tepi paya
beringin rimbun tempatnya setan
aku tak mau sorganya neraka
kuingin hatimu taruh di pinggan (Noeel G)

Pantun Asmara

kalaulah bambu si bambu kuning,
ambilkan satu, bambu saja
kala aku disuasana hening
slalu berlalu bayangan mu saja.
#
ambilkan aku bambu serumpun,
ambilkan pula bambu yang kering.
sungguh kurasa tua dan pikun,
bila tanpamu disuasana hening.
#
kalau balam mencuri bambu 
bisakah bambu menangkap balam?
bila malam datang  padaku,
seakan tak mau ku temui malam.
#
bambu muda namanya rebung,
bambu kering kerangka layang layang
kau dengarkah aku yang bersenandung,
dalam hening menantimu sayang. (Suroyo Agus K. koesmodjo)

layang layang panjang benangnya
jangan diikat di kaki meja
kalau sayang tunjukkan buktinya
jangan hanya di bibir saja

burung balam hinggap di tongkat
terbangnya rendah menyambar batu
jika malam engkau teringat
isi pulsamu callinglah aku

kalau hendak membeli meja
jangan lupa tempah kursinya
kalau hendak selalu bersama
belikan aku rumah dan perabotnya (Noeel G.)



Minggu, 13 November 2011

Galau Aku Memujamu

Dengan gila kau telah menyemai bebiji resah di dadaku pada kemarau yang lalu
kini meraja akarnya merayap raga serupa nadi
rantingnya tekun mencipta resah menari
daunnya biru melambai, ciptakan haru jiwa yang pemalu
buahnya adalah galau
galau meracau
menyesak dada laksa benalu
uffff....
menolehlah ke arahku wahai yang bintang
di sini aku menunggu sinarmu seperti pagi ridukan terang
kirimkanlah aku walau sejenak kau bisa
sebentuk sungging di kelopak berbisa
agar kutelan rinduku tuntaskan malam
esok kunanti kau kembali di persimpangan abadi nan kelam
karena tak pernah kutahu kapan aku berani
persembahkan sepotong hati yang kumiliki
atau kuberi kau belati tuk rajam dadaku
temukan hatiku berisi namamu

11/11/11

Berbalas Pantun

Awan berarak tanda kan hujan
hujan jatuh ditiup angin
Ini adalah pantun balasan
untuk RD, Noell dan bang Thamrin (Yoen Aulina Kasim)

Pergi ke pasar mencari parfum
Berhembus angin dari tasik
Ayo Kak Yoen balas pantun Kedum
sama kita lestarikan sastra klasik (RD.Kedum)

Sukun buahnya jangan dikulum
peramlah mentah di dalam lumbung
Pantun Kak Yoen dibalas Kedum
tak kalah Noeel pun ikut nimbrung  (Noeel G.) xi..xi..xiii...

sukun goreng gaya sabrani
Hidangkan saja di atas nampan
Silakan  Noeel nimbrung di sini
Kata Kak Yoen jalin persahabatan (RD.Kedum)

Laut Kidul ombaknya ganas
Jangan melamun di pantainya
Takut si Noel tak bisa balas
Diserang pantunnya dua bunda...(Yoen Aulina Kasim)Hehehe....

Duyung berjerang dipantai cunda
Ikut bercanda putri meilani
Pantunku diserang oleh dua bunda
Jangankan dua, tiga sekalianpun aku layani...(Noeel G.)

xi..xi...jurus sombong  nih...

x

Senin, 07 November 2011

Kau Seperti Kuntilanak

Malam larut ke dalam gelas kopiku
ketika bayangmu hadir seperti hantu
menari 'striptis' di lorong benakku
hingga paksaku seruput lagi
larutan setan pembenci kantuk
siksa ragaku yang lelah menyumpah
pada liukmu yang kian pongah
sudahlah...
tak bisakah kau enyah sejenak?
atau sekedar rehat menyesak?
pindahlah barang sesaat ke dalam semak
atau mendekamlah di pohon salak
agar kusumpah durinya menyalak hingga kau gawat
tapi kau begitu kuat
kian meraja laksa keramat
puaslah kau lihatku sesak
sekarat pucat...meratapratap
sungguh kau memang seperti kuntilanak...
tengahmalam04112011

Perempuan Sejati

Dialah perempuan yang mencipta keputusan pada pagi dingin
seusai perjalanan malam  mencekam dihalau lolongan anjing liar
melewati pergulatan bumi-langit lahirkan hati berdarahdarah
pendar mata memudar paksa hadirkan sebentuk anggukan

berpantang mengundang sesal s'bab sekali berarti sampai mati
segenggam janji harus disemai hingga berbuah tuaian
pada akar hingga ke batang
pada ranting dan daun-daun
bahkan jua pada rerumput yang hadir bernaung

hidup untuk mengabdi pada lukisan di telapak tangan
larutkan segala rasa di meja hidangan
meluruh semua mimpi karena waktu tak pernah menunggu lelap
kini dia terkapar di sudut waktu menanti senja usai
dalam balutan raga rapuh
menanti mentari jingga berteman dogma yang terpatri...

(Selamat jalan "Perempuan Sejati"...)

Berbalas Pantun

akar Beringin dan akar Kubang
saling berpilin bentuk jembatan
begitu ingin engkau kusayang
bukan cuma dalam impian

Sungai bayang airnya tenang
batu besar pemecah air
kalau engkau dapat kusayang
kusayang sampai hari akhir  (Yoen Aulina Casym)

pohon beringin daunnya rindang
gantungkan benang di daun talas
jika hati ingin menyayang
lakukan dengan tulus dan ikhlas



bawa belati membelah mayang
mayang di pohon jangan dikerat
kalau hati telah meyayang
sayang di dunia dan akhirat (Noeel G.)

Ikat benang di daun talas
Talas disebut buah keladi
Kan kusayang dengan ikhlas
Ikhlas yang dari dasar hati

Mayang di pohon jangan dikerat
Jika dikerat ia kan mati
sayang menyayang dunia akhirat
Doa kupanjatkan sepenuh hati (Yoen Aulina Casym)

Pergi ke pekan membeli pisang
bawa setandan untuk tetangga
bila setiap insan saling menyayang
dunia kan aman bagai di surga (Noeel G.)

Minggu, 06 November 2011

Selamat Datang

Selamat datang di Puisi Noeel G. Blog yang berisi puisi-puisi yang akan menghangatkan suasana hati...

Sabtu, 29 Oktober 2011

Labirin Hati

desaklah aku untuk buatmu berpeluh walau batu menindih ragaku

menarilah liukkan siluetmu walau birahiku enggan meronta

biasakanlah itu duhai perempuanku

agar 'ku sadar dari kembaraku yang liar, titisan dendam...

dan kau alpa mengetahuinya jua 'ku lihai menguncinya tujuh lapis tujuh di bilikku

yang tiada pernah kau kubiarkan menjadi "jaka tarub terhadap bidadari khayangan"

aku itu lihai...duhai perempuanku maka kumohon:

desaklah aku buatmu berpeluh walau bibirku bisu bergurau

menyanyilah dengan jiwamu dari sudut perapian kita

dengan lembut tanpa memekak

seperti yang kusuka- kaupun tahu itu-

biarkan aku berjinjit menghampirimu seperti pencuri

karena nyanyianmu lamat lamat laksana perawan di tengah hutan

kau tahu aku suka itu...

kumohon....duhai perempuanku pasung saja aku!  dengan jimat cintamu

biar 'ku belajar mengerti tentang rusuk yang hilang

tentang sebentuk daun keladi yang kau sajikan dengan ketulusan

biar ku damai meniti hari bersamamu

di jalan setapak rintisan kita menuju pardis impian

perempuanku...

berkemaslah sigap

bawa serta buah hati kita, sebelum matahari meninggi...



 (medan 230711)

Hujan Cinta...

Bagaimana aku menyongsongmu cinta...



Lihatlah...diluar belum aman, runcing hujan masih menghujam, ramai...



gluduk gerobak atlas gledak -gleduk menghardik, aku takut...



lampu potret empunya langit menyambar-nyambar, aku ngeri...



bersabarlah barang separuh lingkaran jarum panjang pengelana waktu



setelah itu aku merindu di sisi dagumu



kupastikan itu tanpa ragu, karena aku sungguh padamu



cinta...jangan lupa, jerangkan setanggi air cintamu...



tuk bilas rambut basahku, hangatkan aku yang rebahanmu



maniskan seteguk kopi di meja bundarmu



kubagi untukmu menjadi madu serupa diramu



cinta, janganlah jemu menantiku



karena di luar hujan masih merajam



bersabarlah seperempat lingkaran jarum panjang pengelana waktu



setelah itu aku merindu disisi dagumu.

(tempatkerja28/7/11)

Sesal

menangislah dengan sedih
agar terobat kesalmu
merintinhlah dengan pilu
sampai teriris jantungmu
usaikan sampai menjelang pagi
dan sambut mentari dengan hati yang sepenggal
biarkan potongannya meronta kepanasan
menahan sesal yang tak berujung
di ujung senja...
kan kau temui hati yang mengering
dipinggir jalan yang sunyi...
berharap waktu dapat kembali
(19/07/11)

Di Persimpangan Aku Memilih Pintu Gelap

Di persimpangan aku terpasung sepi

berharap angin mengecup keputusan di telapak kaki

mengayun hati pada ilalang bergoyang

namun bumi enggan bergeming, hening...

Di persimpangan aku memelihara ombak

dada gemuruh meluruh menghanyutkan daun daun berlirik gundah

akan pilihan yang tak harus...

ada tabiat yang tak seperti  sungai, menolak muara, mencibir arus

Di persimpangan aku mendengar bisikan sekam

"hati pun bisa membusuk walau kau genggam...bukankah kau sipenikmat dunia?"

egoku akur mengangguk terasuk

naluri mencuri kesucian janji pada bunga-bunga

menuntun kaki yang teragitasi melangkah menuju...

lari, teruslah berlari wahai tungkai...songsong inginmu..!

menari, teruslah melentik wahai yang mimpi

jangan berhenti sebelum merengkuh...

kini gilirmu wahai jemari, melengkunglah laksa gelembung

ciptakan ketukan pada pintunya

temukan senyumnya yang dirilis misteri

rangkulnya bawaku ke dalam gelap lalu aku lenyap...

(medan/09/09/11)

Aku Ini Lelaki Wahai Bunga-bunga

Pergilah saja dari tamanku wahai bunga yang sombong karena aku bukanlah pencinta sejati

menjauhlah saja dari kebunku wahai kembang  wangi karena aku bukan penikmat yang berani

jangan pernah mengharap aku merawat karena aku tak bakat

tiada perlu engkau  menunggu karena aku tak punya waktu



Wahai bungabunga dengar ucapku

puas aku dengan tamanku yang ditumbuhi kembang tahi ayam walau baunya tak perawan

aku senang lidah buaya yang setia menjulur mujur seumurumur

atau masih kupunya bougenvil si rajin tekun memberi warna



Kini pergilah jauh, jangan kembali walau sekali

karena aku tak bermulut dua,  juga tak berkata sia

bahkan pabila semua bunga meranggas, aku tak cemas...

esok kuganti dengan kertas

atau pun emas...



15/08/11

Lelah Aku

Hasrat meronta pada senja menjelang langit runtuh

ketika geliat birahi tekun mencipta tarian resah penuh sesumbar

kutuk benak yang tak menuntun hati pada nyali

selalu kembali pada keputusan yang sekejap berbuah sesal

selekas angin bergegas, menera bekas

aku berputar pada perulangan yang menjemukan

meski pasrah tak diundang, jenuh berdendang pada daun-daun bimbang

senyum mengecam di bunga-bunga yang lelah menengadah

aku tak perduli...walau kutahu selalu kembali pada perulangan yang menjemukan

ya, menjemukan...

salahkan yang mencipta taksempurna

atau ulangi tempah aku pada pola tak bercela

seperti yang kau suka...



(05/09/11)

Balada Kata Kata

Ribuan 'kata' berlari panik berputar onar

 menabrak saling berbentur meronta hingar

tiap benturan beranak dua, juga tiga, atau tak terhingga...

tak bertata, juga tak mermakna...,telanjang, liar

tiap- tiap dari 'kata' ambisi berlomba...

temukan jalan untuk keluar dari kungkungan yang mulai kotor

oleh bangkai  'kata' yang gugur terkubur

yang terlepas tak juga bersyukur...

s'bab tak semua terdengar  menghibur

yang tertuang tak juga riang...

s'bab tak semua mendapat acung

hanya yang ikhlas senantiasa  tersenyum walau terlahir tanpa pujian

setidaknya akulah kata yang telah terlahir sebagai puisi yang kini ada di letterater

apresiasilah aku wahai Pembaca...dengan 'suka'  atau 'komentar' mu...

karena aku telah berjuang terlepas dari benak penulisku.
(medan,240711)

Letterater Vs Lateratur

Lateratur' dalam bahasa Karo (salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara) mempunyai arti/ makna ' Tidak Teratur '.  Yang berasal dari kata dasar La (Lang; Lahang) = Tidak  +  Atur (teratur) menjadi Lateratur yang artinya tidak teratur, atau tidak beraturan.

Sesungguhnya kata Lateratur tidak ada hubungannya sama sekali dengan Letterater (situs yang menjadi tempat favorit baru bagi para pencinta sastra, termasuk saya).  Mungkin saya saja yang  kurang kerjaan atau sedikit usil untuk membahas masalah yang bukan masalah ini. 

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dengan kehadiran Letterater telah membuka cakrawala baru bagi saya dan pencinta sastra Indonesia dimana telah lahir sebuah wadah untuk menyalurkan bakat-bakat terpendam di bidang sastra dan memacu tumbuhnya penulis-penulis baru dan pemula, dimana sebelumnya  tidak pernah berani untuk mengirimkan karya mereka ke surat kabar, majalah, atau tabloid karena merasa belum pantas, takut ditolak, atau bahkan merasa tidak percaya diri.  Yang mengakibatkan karya-karya yang sudah mereka buat tidak pernah teratur tersusun atau bahkan terbuang dan tercecer begitu saja.  Mungkin ini tidak berlaku bagi penulis yang sudah senior dan mapan, karena karya mereka justru selalu ditunggu oleh penerbit dan mendominasi seluruh media massa yang ada.

Kehadiran Letterater saya analogikan sebagai kehadiran sebuah lapangan bermain di tengah pemukiman kota yang padat dan sumpek.  Dimana seluruh masyarakat kota bisa datang untuk bermain di sana.  Tua, muda, profesional, maupun pemula semuanya bisa datang dan bermain sesuka hati dan memainkan permainan yang mereka sukai (dengan mematuhi aturan tentunya).  Datang untuk sekedar menonton juga boleh, memberikan komentar atas permainan orang-orang juga tidak salah, atau sekedar tamasya menikmati panorama lapangan sambil melihat-lihat orang yang hadir di sana juga tidak ada yang melarang.  Pokoknya komplitlah.

Letterater versus Lateratur, seperti judul tulisan ini kolerasinya adalah bahwa kehadiran Letterater telah mendobrak Lateratur (baca: ketidak beraturan) dimana karya - karya kita bisa tersusun dengan teratur dan terdokumentasi dengan baik.  Setiap karya kita, terlepas dari karya bagus ataupun 'ka-cang' (karya kacangan) semua punya tempat yang sama.  Tulis! Terbitkan! Hanya dalam hitungan detik setelah ENTER karya kita sudah bisa dilihat oleh para pembaca di seluruh Indonesia.  Bahkan saya merasakan dengan kehadiran Letterater hidup saya sedikit semakin teratur dari sebelumnya, dimana dari segi pemanfaatan waktu saya jadi termotivasi untuk lebih disiplin.  Misalnya jam - jam menjelang usai jam kerja di kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke situs ini, dan kalau mood lagi datang saya tuangkan menjadi sebuah puisi.

Sesungguhnya Letterater telah menjadi oase ditengah kerinduan orang -orang akan wadah untuk berkarya khususnya tulis menulis.  Tetaplah bergerak seiring dinamika perkembangan zaman melalui penyempurnaan fitur-fiturnya. Maju terus Letterater....!  Selamat tinggal Lateratur...!



14/08/11

Sesal Part II

Aku tahu tak ada maaf di pohon-pohon yang kambiumnya meleleh darah



tak pernah lekang dimakan waktu tetap tersisa membekas sekeras batu



tapi aku hendak bisikkan pada rerumput dan daun pandan bahwa aku menyesal di ujung kolam.



Berharap katak bawa genderang menyanding tokek...mengejek bahwa akulah pecundang



Kutahu tak terbayar pedihmu oleh sesalku walau kuhempas ragaku



Dijenjang maafmu, diujung nafasku kumohon: putihkan  warnaku agar tak lagi abu-abu monyet.



(30/07/11)

Balas Pantun

beli mangga sama kak haris
mangganya busuk protes buk Lili
Negara ini semakin menangis
karena generasi jarang peduli


beli jambu sama sulaiman
mau d bayar dompetnya ilang
generasi sekrang uda anak jaman
dia lupakan para pejuang (Safrida Novita)

beli mangga di pasar rawa
pohonya besar tempat keramat
jika ingin negara tertawa
lakukan karya dengan semangat (Noeel G)

Kau Dan Aku

Kau cipta banyak warna pada bunga-bunga



di setiap jejak yang kau gegas



merona...menebar aroma







tiada getar ketika bola mata saling mengincar



pada kelakar yang mekar di kuntum sesawi



tiada usai sebelum senja melerai







aku, kau : tak pernah sadar ada masa merayap bisu di sisi kita



menyeret kita pada tebing..



aku, kau : kini terjaga di garis waktu ketika kita tak bisa mengentikan detikdetiknya



terlambat aku sadar bahwa kau begitu berarti



saat kau harus kembali pada sebuah janji...







(Akan kunanti kau kembali sampai waktu menghilangkanku/bersama perulangan yang menjemukan)







Medan,21/08/11

Pantun Bijak

Bangau berenang di pagi hari

Punai bertelur di batang randu

Nenek berjanji di dalam hati

Membawamu selalu dalam doaku..(Kwkwkwkw….Noeel..please ! RD.Kedum)




Bebek bertengkar di bawah kayu

Tiriskan sagu diatas nampan

Nenek yang pintar dan banyak ilmu

Wariskan aku  cara membuat cerpen   (Jurus maksa ni Nek…Noeel G.)

Wahai Angin

wahai angin....jemputlah jiwa dan bawa ke tempat tertinggi...sejauh kau bisa



24 Agustus 2011 jam 09:59

Rindu

duh...rindunya rindu...pada gaun putihmu yang kau kenakan dulu ketika hatiku belum melebam...



04 September 2011 jam 11:56

Lelah Aku

Hasrat meronta pada senja menjelang langit runtuh

ketika geliat birahi tekun mencipta tarian resah penuh sesumbar

kutuk benak yang tak menuntun hati pada nyali

selalu kembali pada keputusan yang sekejap berbuah sesal

selekas angin bergegas, menera bekas

aku berputar pada perulangan yang menjemukan

meski pasrah tak diundang, jenuh berdendang pada daun-daun bimbang

senyum mengecam di bunga-bunga yang lelah menengadah

aku tak perduli...walau kutahu selalu kembali pada perulangan yang menjemukan

ya, menjemukan...

salahkan yang mencipta taksempurna

atau ulangi tempah aku pada pola tak bercela

seperti yang kau suka...



(05/09/11)

Curhat

ketika aku terbang ke awan, seketika aku rindu bumi...

Bulan Di Pinggan

ku kan pergi sejenak meninggalkanmu

walau tak begitu jauh tapi ku yakin kan tercipta rindu

pada dinding hati yang berhias pigura senyummu

slalu sama seperti yang lalu ketika kuikrar aku padamu...



ku kan pergi sejenak meninggalkanmu

ketika langkahku dua deva, bisikmu menggema di telingaku

seperti biasa kau semat jimat di getar nadi

agar ku lekas kembali...



ya...cintaku,...untuk pintamu

ya... cintaku,....bagi harapmu

ya... cintaku,....pada doamu

ya...cintaku, aku kan kembali membawa bulan di pinggan...

hanya untukmu...



22/09/11

Deja Vu

Pertama kali kucuri wajahmu dari sudut mataku
Saat itu kau hadirkan Monalisa di ranum kelopakmu
Ketika kucoba merengkuhmu dengan puisi yang kubawa bersanding bulan
Ada misteri di senyummu…ada tekateki di kerlingmu
Dan aku merasa mengenal warnamu
Aku akrab dengan aromamu…manis merayu
Di mana gerangan kita pernah bertukar pendar
Atau hanya di dalam lenaku ketika kau dikirim lewat tidurku
Mengakulah padaku duhai yang manis…
Bukan tentang dari mana dirimu…
Bukan cerita siapa namamu…
Katakanlah bahwa kau ada untukku.



011011

Tobat

Aku ditengah hujan mengharap air berubah dirimu

menyelusup liar di lekuk tubuhku hingga aku menggigil riang

meresap tak bersekat mengendap sampai ke tulang

hingga dingin serasa berdiang pada kelambu jiwa yang menenteramkan

tiada keraguan pada senyummu

tiada kemarahan di sinarmu

kau jerang semua yang kau punya tanpa kesah tanpa desah...

bukan pilihan untuk mengabdi namun setia adalah janji 

kau hunjuk bukti pada putaran harihari

menanti ku kembali mencium ujung jemari

sesaat selepas hujan...

berharap 'ku temukanmu

pada basah tubuhku...

pada kuyup rambutku...

walau kutahu kau  jauh kini...

'kan tetap kunanti hingga kau datang menyeka...

pada basah dan luka jiwa...



(cinta...aku ingin kembali...walau dalam basah parah...

  terimalah aku, takkan kuulang walau sekali...janji  tobatku tak tobat cabai...tapi      tobat   tahi ayam)

dedicated to  'U'

4/10/11

Senja Kiamat

Masih kusimpan gambar sebuah pondok tua tidak mencolok di sudut memori
membumi di pinggir tebing  curam  menggelayut di kaki bukit
di sana tersimpan sejuta kenangan masa kecilku
uriku tertanam di pojok pekarangannya yang menjelma menjadi helai daun serai mewangi
                                                                    
                                                                        2
Tak kupercaya Ibuku hanya memiliki sepasang tangan gemulai merajut setiap sudut
hingga tersulam keindahan di setiap sisinya saat kabut ringan masih memagut
ku bangga pada ayah yang selalu gigih menyisir lereng bukit sampai ke sungai kecil
mengumpul saji menyongsong mentari bahkan sebelum aku terjaga
                                                                      
                                                                         3
Enggan aku membuka mata setiap kali semua hadir diujung malamku
pada lelap yang memaksa raga menyerah pasrah menyanding dengkur mengguntur
ingin kumurka mentari yang hadir terlalu dini mengoyak mimpi
hasrat kubunuh perempuanku yang rajin menghardik membakar pagi
                                                                       
                                                                          4
Kini ku harus menyongsong kosong...
pada gorong-gorong di ujung lorong sekedar temukan segenggam bekal
untuk buah hati yang menanti harap kubawa banyak
pada senja aku pulang menyanding kiamat...

08/10/2011

Berbalas Pantun

Hitam warnanya si air kopi

akan manis di tambah gula

miskin dan papa kita hadapi

anggap saja pintu surga (RD.Kedum)





jika gula manis rasanya

seduhkan dia di gelas biru

jika miskin pintunya surga

temukan dia di telapak kaki ibu (Noell G)



jika minum dari gelas biru

elok lah di minum di tepi pantai

jika surga memang di telapak kaki Ibu

pengorbanannya baiklah dihargai (Huta Baringin)



Duduk di pantai berlaut biru

ambil kelapa minum berdua

mari sayangi ayah dan ibu

pasti kita akan masuk surga (RD.Kedum)



melintas sawah penyu berjalan

membawa bunga pada punggungnya

menyayang ayah ibu adalah kewajiban

mari lakukan dengan penuh cinta...(Noeel G.)

Jenuh

jenuhku seperti gula di air tebu...sungguh mengenyangkan....kemana harus ku tawarkan rasa agar sedikit berasa garam atau bahkan asam hingga mengoyak bejana atau harus bunuh semua rasa agar tiada berasa...ufffff....sesak aku....



10 Oktober 2011 jam 06:37

Pantun Nasehat

Sari timun banyak vitaminnya
Bisa membuat dahaga plong
Carilah teman sebanyak bisa
Bila tersesat ada menolong

x

Mencari Permaisuri

akulah pangeran yang mencari permaisuri bertubuh puisi



untuk kusanding sebagai rajahan katakata



pada tiap jengkal lekuk eloknya



hingga tercipta birahi sepanjang malam



menjelang pagi kucumbu dia dengan nyanyian



ketika siang kudekap dia dengan sajak



pada senja kupastikan menjelang puncak



sampai tambun rahimnya oleh distikhon, tersina, quantrin, quin, sextet, septima, stanza dan sonata...



tapi aku masih pangeran yang tak kunjung uzur



karena tak puas aku pada satu permaisuri



kan kucari lagi dayang berparas puisi...







tengahmalam,12/10/2011

Loe, Gue, End...

Pagi menggigil kerontang mengemas kegetiran

Seusai debat kita di ujung malam

Bungkuslah hati dalam timpus sembilu

Karena tak sempat kita lipat kelebat  kenangan ketika fajar mengetuk pintu

Masih tersisa senggukmu tersekat di ujung trakea mengisak keputusan dengan terbata

Tak usai kita mengeja seluruh kata karena ego meraja

Walau patah tongkat berjeremang, tak juga hati bersua hingga jenuh melepuh

Cintaku …mari kita berangkat berjingkat dipandu emosi....



Engkau ke timur aku ke barat...



Sebelum banyak tingkap menguak  mengintai pigura  pecah bergambar kita



Sebelum burung berkicau tentang cinta, karena kita sudah tak punya...

Jangan hirau mawar kita yang akan mekar di sudut taman

Karena semua telah usai…







(Cinta... jika takdir berkata lain, di jalan ini kita akan berjumpa lagi...)



recycle@noeel"Kamu, Aku Berakhir"4102011

Pantun Bersedih

melati memang warnanya putih
dirangkai satu gantung di dinding
hatiku hancur semakin sedih
melihat kekasih duduk bersanding (R.D. Kedum)

daun selasih tumbuh di tebing
pakailah cangkul cari umbinya
biarkan kekasih duduk bersanding
tetaplah senyum cari gantinya...(Noeel G.)

Pencarian

kumulai pencarian sebentuk nisbi
yang tak kukenal wujudnya
kaki kiri atau kanan naif mengayun
hati tak membimbing
tujuan tak mengerucut pada selesa
yakin satu
temukan batu
pecahkan isi kepalaku...

x

Pantun Galau

bebek berenang di air payau
airnya keruh banyak lumpurnya
kalau hatiku sedang galau
hendak kemana kucari obatnya? (Noeel G.)

Induk itik mandi di danau
berenang ke tepi basah bulunya
jika hati terasa galau
bermain cinta itu obatnya   (Nuzul Kurniawan)

Itik berenang di halau angsa
ayam betina mengais papa
bagaimana hati tak galau dan putus asa
hendak bercinta dengan siapa? (Noeel G.)
         

Kau

Hatiku jengah menghampirimu

ketika mataku mencuri pipimu dan jenjang lehermu meluluhkan seluruh keakuanku

sisa malamku habis melarung bersama hadirmu yang kian masif di pusat saraf

kucoba basuh di sendang galau, namun...

tarianmu semakin mencipta gilaku

menyeret sukmaku pada labirin

mengasuh obsesi setinggi bulan

semua bintang kau himpun di bola matamu hingga langitku menjadi gelap

matahari mengikutimu jadikan bumiku redup tanpamu

angin menunggu petikan jarimu

lalu siap menghempasku ke palung sunyi

kumohon...

jangan lakukan itu

karena akulah pemujamu yang setia menyanyikan ode untukmu

ya...hanya untukmu

pada lirik dan senandung jiwa yang coba singkirkan elegi

tiruslah kau menuju jiwa

sampai lena aku pada dekapmu...

Sajak Abrakadabra

Secepat kilat aku melesat tak berjejak

kusongsong langit membelah awan

kusikat penjahat yang asyik merebak

aku menjadi superman



Seketika aku mendarat apik

di pusat keramaian gadisgadis

mereka menjulurkan lidah serakah menjilatjilat

karena akulah don juan menjelma sebagai bradpitt



bosan aku dengan gincu palsu

terbang aku melayanglayang

retas segala yang menghalang

kujelang segala keindahan

kini ku jadi kupukupu



kuhunus pedang sebentuk godam

tiada tanding kekar berlengan

kupuaskan bunga setaman

hingga terkulai matanya lebam



kusingkir semua yang coba menghalang

melaju cepat laksana angin

manuver cantik meliukliuk

aku sebagai marcosimoncelli

kutebas semua tanpa peduli

seketika aku terlempar lalu tersadar

terkapar aku di bawah ranjang...



(mimpiabrakadabra24/10/11)

Kau (...kah Itu?)

Kuterima kiriman rindumu dengan utuh pada angin sepoisepoi
berwujud nafas yang hangat di pucuk hidungku
kuendus dan meresap sampai ke hati
kuteliti tekun di rongga dada sebentuk setia yang pernah kau janji pada daundaun
bahwa jiwa tak pernah menua
bahkan saat mentari kehilangan pijarnya
kuharap kau mau ulangi jejak kita yang usang
pada malam ketika mata kita bersirobok lekat tak bersekat
pada pagi saat kau seka bulir bening di sudut keningku
tak lekang aromamu manis merebak di taman samping
tiada jemu kureka hingga raga merebah pasrah
dan kutemukan kau ternyata masih jauh
seketika...
desah rumpun bambu menertawakanku

(malampenantian261011)

x
www.letterater.com

Follow by Email

Pengikut

Buble