Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Agustus 2017

Kau & Aku


Kau & Aku
Pertama ku mengenalmu di dunia angan bak fatamorgana
Aku atau Kau yang menemukan itu tak pasti
Lalu kau nyata di air kelapa yang kuteguk  rata tak berasa
Sua perdana kita akhiri di bawah cemara
Yang rantingnya kering meranggas resah...

Dadaku bergemuruh katamu, kurasakan juga itu ujarku
Setelah itu kita kembali pada realita tanpa canggung
Setelahnya kita kembali merindu dibawah cemara yang sama, itulah yang kedua

Roda haruslah bergulir, tapi rindu enggan digilas
Kujanjikan kau di KeNO tanpa sungkan kau mengangguk setuju tiga

Puaskah aku?  Cukupkah buatmu?  Kita akur : TIDAK...!!!
Empat rindu melonjak-lonjak menyerbu hingga ke ubun ubun
Melayang tinggi kepuncak Lexus hingga kota tak mengenal kita, pada senja kita terkapar...

Kita jelang cinta merah delima seusai debatmu dengannya
Ada rasa sesal tapi aku tak berdaya 
kupagut rona membara di dahimu hingga puas
Kita selesaikan tuntas tanpa bekas seperti kerbau membajak empat kali

Kembali Aku dan kau seperti tak berakal
memendam rindu hingga membiru
Jelajah hari bersama hingga ke ujung bumi
teruji kau setia...
Sepanjang jalan mengembara angan liar menebar pendar
Tiada aral kita hirau walau tak sedikit mencecar
hingga senja rubuh di rumpun buluh
Kita tuntaskan tanpa sesal hingga meresap ke pORi-poRI di seperenam hari
***
(cinta! belumusaikisahini...)kualanamu 160317

Kamis, 23 Februari 2017

Perjalanan Dilanjutkan

Sudah sangat lama tidak mengunjungi blogku ini.  Bertahun-tahun tidak ada posting apa-apa.
Hari ini akan kumulai lagi menuliskan apa saja yang terlintas di benakku tanpa harus banyak pertimbangan bagus atau tidak.  Setidaknya tulisan-tulisanku akan menjadi saksi sejarah bagi semua orang yang kucintai terutama anak-anakku bahwa aku pernah ada, aku pernah berkarya.
Ayo melangkah wahai tungkai yang lama duduk...!
Ayo merangkai wahai anganku yang lama tertidur...
Ayo menari wahai jemari
Agar tercipta sajak atau puisi
<kualanamu_sorehari_menjelangpulang>




Selasa, 17 Januari 2012

Bulan Separuh

sudah seperempat waktu pencarianku ketika bulanseparuh tersenyum masam
mencibir langkah goyah yang kian payah
coba rangkai mozaik rumit berpola abstrak
yang kau hempaskan kemarin hambur membentuk puing kering
pada pilarpilar kesepian yang ditinggal peradaban milikmu
"tak perlu penjelasan...", katamu
karena bagimu aku hanyalah pecundang yang tak pernah melihat purnama

Noeel G.
17/01/12

Save Our World (save our love)

tak salah hujan menengahi perseteruan kemarau dan daundaun
karena aku dan kau t'lah ciptakan dusta di kelopaknya
ayo kita berhenti berusaha membakar taman ini
s'bab ada jangkrik dan belalang  yang merindukan teduhnya

Noeel G.
januari12

Memujamu

kulihat ada permainan di pupilmu
saat kuhunjuk mawar dari balik punggungku
kuberi tahu kau, itu kupetik dari seberang yang lelah aku berenang

plis.... turunkan alismu
jangan lukis keningmu dengan guratan
s'bab tahukah kau?
telah kupatahkan ranting-ranting bimbang yang meranggas hati
telah kubunuh tokek di sisi terali
hanya untuk menjelangmu

kali ini,
jangan kau ucap tak ada jalan menuju hatimu
s'bab sudah kulukis pintunya di setiap mimpiku
kucipta taman dan bunga-bunga untukmu

ayolah...
berikan jemarimu
lekat di dadaku
rasakan ombakku
dekatkan bibirmu
kusimpan hangatmu
manisnya untukmu
ulurkan lenganmu
erat di sayapku
kita kan terbang menuju pelangi...


Noeel G.<8/1/12>

Jumat, 06 Januari 2012

Lelaki Penghalau Burung

 Bergegas kita pulang menuju desamu di penghujung tahun

aku tahu bulirbulir emas dan daun padi sudah menyambut kita di alunalun

aku terbayang gemericik air dan nyanyian jangkrik riuh rendah

ya, juga angin tahun baru sudah mendahului kita sampai di pondok kecil

membawa tawa dan gema sumringah di daundaun



tapi kemana gerangan lelaki penghalau burung

yang setia menera jejak

pada bentangan pematang sawah

setiap kali tak alpa menjerang ikanikan di kolam harmoni

pada malamnya kita debatkan ramuan bumbunya:

tentang dekke naniura* yang kecut meringis

tentang gulai entok yang menarik lidah kita sampai ke siku

atau tentang segelas tuak yang menggelegak di ubunubun

berparade imaji kita hingga menjelang pagi



dimana gerangan lelaki penghalau burung

tak kutemukan di garis pematang

tak jua menyapa di sisi lumbung

uff...

sesaknya dada

asap panggangan tahun  lalu masih mendekam

menyedak dalam sampai ke hati

karena dia pergi tak pernah kembali seperti air meninggalkan pancuran

dimanakah bermuara kenangan yang siasia



tiada impas hati merindu

takkan berarti seikat krisan

juga setangkai gladiol putih

yang 'kan kusemat di sisi nisan.

di kejauhan, orangorangan sawah melambaimelambai.



31 Desember 2011.



*dekke naniura : makanan khas Batak Toba (ikan mas yang dibumbui dan dimasak dengan asam tanpa api)

Sabtu, 17 Desember 2011

Nelayan Dan Ikan Keramat

Oh nelayanku...
Melautlah dengan semangat
Tepat pada senja yang semakin sekarat
Bawa bekal doa sanak kerabat
Arungi samudera dan selat
Esok merapat dengan selamat
Dermaga menanti meratapratap
Berharap kau bawa ikan keramat
'Tuk kau jadikan jimat
Agar hidupmu tak lagi melarat...

 

Senin, 07 November 2011

Perempuan Sejati

Dialah perempuan yang mencipta keputusan pada pagi dingin
seusai perjalanan malam  mencekam dihalau lolongan anjing liar
melewati pergulatan bumi-langit lahirkan hati berdarahdarah
pendar mata memudar paksa hadirkan sebentuk anggukan

berpantang mengundang sesal s'bab sekali berarti sampai mati
segenggam janji harus disemai hingga berbuah tuaian
pada akar hingga ke batang
pada ranting dan daun-daun
bahkan jua pada rerumput yang hadir bernaung

hidup untuk mengabdi pada lukisan di telapak tangan
larutkan segala rasa di meja hidangan
meluruh semua mimpi karena waktu tak pernah menunggu lelap
kini dia terkapar di sudut waktu menanti senja usai
dalam balutan raga rapuh
menanti mentari jingga berteman dogma yang terpatri...

(Selamat jalan "Perempuan Sejati"...)

Sabtu, 29 Oktober 2011

Labirin Hati

desaklah aku untuk buatmu berpeluh walau batu menindih ragaku

menarilah liukkan siluetmu walau birahiku enggan meronta

biasakanlah itu duhai perempuanku

agar 'ku sadar dari kembaraku yang liar, titisan dendam...

dan kau alpa mengetahuinya jua 'ku lihai menguncinya tujuh lapis tujuh di bilikku

yang tiada pernah kau kubiarkan menjadi "jaka tarub terhadap bidadari khayangan"

aku itu lihai...duhai perempuanku maka kumohon:

desaklah aku buatmu berpeluh walau bibirku bisu bergurau

menyanyilah dengan jiwamu dari sudut perapian kita

dengan lembut tanpa memekak

seperti yang kusuka- kaupun tahu itu-

biarkan aku berjinjit menghampirimu seperti pencuri

karena nyanyianmu lamat lamat laksana perawan di tengah hutan

kau tahu aku suka itu...

kumohon....duhai perempuanku pasung saja aku!  dengan jimat cintamu

biar 'ku belajar mengerti tentang rusuk yang hilang

tentang sebentuk daun keladi yang kau sajikan dengan ketulusan

biar ku damai meniti hari bersamamu

di jalan setapak rintisan kita menuju pardis impian

perempuanku...

berkemaslah sigap

bawa serta buah hati kita, sebelum matahari meninggi...



 (medan 230711)

Hujan Cinta...

Bagaimana aku menyongsongmu cinta...



Lihatlah...diluar belum aman, runcing hujan masih menghujam, ramai...



gluduk gerobak atlas gledak -gleduk menghardik, aku takut...



lampu potret empunya langit menyambar-nyambar, aku ngeri...



bersabarlah barang separuh lingkaran jarum panjang pengelana waktu



setelah itu aku merindu di sisi dagumu



kupastikan itu tanpa ragu, karena aku sungguh padamu



cinta...jangan lupa, jerangkan setanggi air cintamu...



tuk bilas rambut basahku, hangatkan aku yang rebahanmu



maniskan seteguk kopi di meja bundarmu



kubagi untukmu menjadi madu serupa diramu



cinta, janganlah jemu menantiku



karena di luar hujan masih merajam



bersabarlah seperempat lingkaran jarum panjang pengelana waktu



setelah itu aku merindu disisi dagumu.

(tempatkerja28/7/11)

Sesal

menangislah dengan sedih
agar terobat kesalmu
merintinhlah dengan pilu
sampai teriris jantungmu
usaikan sampai menjelang pagi
dan sambut mentari dengan hati yang sepenggal
biarkan potongannya meronta kepanasan
menahan sesal yang tak berujung
di ujung senja...
kan kau temui hati yang mengering
dipinggir jalan yang sunyi...
berharap waktu dapat kembali
(19/07/11)

Di Persimpangan Aku Memilih Pintu Gelap

Di persimpangan aku terpasung sepi

berharap angin mengecup keputusan di telapak kaki

mengayun hati pada ilalang bergoyang

namun bumi enggan bergeming, hening...

Di persimpangan aku memelihara ombak

dada gemuruh meluruh menghanyutkan daun daun berlirik gundah

akan pilihan yang tak harus...

ada tabiat yang tak seperti  sungai, menolak muara, mencibir arus

Di persimpangan aku mendengar bisikan sekam

"hati pun bisa membusuk walau kau genggam...bukankah kau sipenikmat dunia?"

egoku akur mengangguk terasuk

naluri mencuri kesucian janji pada bunga-bunga

menuntun kaki yang teragitasi melangkah menuju...

lari, teruslah berlari wahai tungkai...songsong inginmu..!

menari, teruslah melentik wahai yang mimpi

jangan berhenti sebelum merengkuh...

kini gilirmu wahai jemari, melengkunglah laksa gelembung

ciptakan ketukan pada pintunya

temukan senyumnya yang dirilis misteri

rangkulnya bawaku ke dalam gelap lalu aku lenyap...

(medan/09/09/11)

Aku Ini Lelaki Wahai Bunga-bunga

Pergilah saja dari tamanku wahai bunga yang sombong karena aku bukanlah pencinta sejati

menjauhlah saja dari kebunku wahai kembang  wangi karena aku bukan penikmat yang berani

jangan pernah mengharap aku merawat karena aku tak bakat

tiada perlu engkau  menunggu karena aku tak punya waktu



Wahai bungabunga dengar ucapku

puas aku dengan tamanku yang ditumbuhi kembang tahi ayam walau baunya tak perawan

aku senang lidah buaya yang setia menjulur mujur seumurumur

atau masih kupunya bougenvil si rajin tekun memberi warna



Kini pergilah jauh, jangan kembali walau sekali

karena aku tak bermulut dua,  juga tak berkata sia

bahkan pabila semua bunga meranggas, aku tak cemas...

esok kuganti dengan kertas

atau pun emas...



15/08/11

Lelah Aku

Hasrat meronta pada senja menjelang langit runtuh

ketika geliat birahi tekun mencipta tarian resah penuh sesumbar

kutuk benak yang tak menuntun hati pada nyali

selalu kembali pada keputusan yang sekejap berbuah sesal

selekas angin bergegas, menera bekas

aku berputar pada perulangan yang menjemukan

meski pasrah tak diundang, jenuh berdendang pada daun-daun bimbang

senyum mengecam di bunga-bunga yang lelah menengadah

aku tak perduli...walau kutahu selalu kembali pada perulangan yang menjemukan

ya, menjemukan...

salahkan yang mencipta taksempurna

atau ulangi tempah aku pada pola tak bercela

seperti yang kau suka...



(05/09/11)

Balada Kata Kata

Ribuan 'kata' berlari panik berputar onar

 menabrak saling berbentur meronta hingar

tiap benturan beranak dua, juga tiga, atau tak terhingga...

tak bertata, juga tak mermakna...,telanjang, liar

tiap- tiap dari 'kata' ambisi berlomba...

temukan jalan untuk keluar dari kungkungan yang mulai kotor

oleh bangkai  'kata' yang gugur terkubur

yang terlepas tak juga bersyukur...

s'bab tak semua terdengar  menghibur

yang tertuang tak juga riang...

s'bab tak semua mendapat acung

hanya yang ikhlas senantiasa  tersenyum walau terlahir tanpa pujian

setidaknya akulah kata yang telah terlahir sebagai puisi yang kini ada di letterater

apresiasilah aku wahai Pembaca...dengan 'suka'  atau 'komentar' mu...

karena aku telah berjuang terlepas dari benak penulisku.
(medan,240711)

Sesal Part II

Aku tahu tak ada maaf di pohon-pohon yang kambiumnya meleleh darah



tak pernah lekang dimakan waktu tetap tersisa membekas sekeras batu



tapi aku hendak bisikkan pada rerumput dan daun pandan bahwa aku menyesal di ujung kolam.



Berharap katak bawa genderang menyanding tokek...mengejek bahwa akulah pecundang



Kutahu tak terbayar pedihmu oleh sesalku walau kuhempas ragaku



Dijenjang maafmu, diujung nafasku kumohon: putihkan  warnaku agar tak lagi abu-abu monyet.



(30/07/11)

Kau Dan Aku

Kau cipta banyak warna pada bunga-bunga



di setiap jejak yang kau gegas



merona...menebar aroma







tiada getar ketika bola mata saling mengincar



pada kelakar yang mekar di kuntum sesawi



tiada usai sebelum senja melerai







aku, kau : tak pernah sadar ada masa merayap bisu di sisi kita



menyeret kita pada tebing..



aku, kau : kini terjaga di garis waktu ketika kita tak bisa mengentikan detikdetiknya



terlambat aku sadar bahwa kau begitu berarti



saat kau harus kembali pada sebuah janji...







(Akan kunanti kau kembali sampai waktu menghilangkanku/bersama perulangan yang menjemukan)







Medan,21/08/11

Lelah Aku

Hasrat meronta pada senja menjelang langit runtuh

ketika geliat birahi tekun mencipta tarian resah penuh sesumbar

kutuk benak yang tak menuntun hati pada nyali

selalu kembali pada keputusan yang sekejap berbuah sesal

selekas angin bergegas, menera bekas

aku berputar pada perulangan yang menjemukan

meski pasrah tak diundang, jenuh berdendang pada daun-daun bimbang

senyum mengecam di bunga-bunga yang lelah menengadah

aku tak perduli...walau kutahu selalu kembali pada perulangan yang menjemukan

ya, menjemukan...

salahkan yang mencipta taksempurna

atau ulangi tempah aku pada pola tak bercela

seperti yang kau suka...



(05/09/11)

Bulan Di Pinggan

ku kan pergi sejenak meninggalkanmu

walau tak begitu jauh tapi ku yakin kan tercipta rindu

pada dinding hati yang berhias pigura senyummu

slalu sama seperti yang lalu ketika kuikrar aku padamu...



ku kan pergi sejenak meninggalkanmu

ketika langkahku dua deva, bisikmu menggema di telingaku

seperti biasa kau semat jimat di getar nadi

agar ku lekas kembali...



ya...cintaku,...untuk pintamu

ya... cintaku,....bagi harapmu

ya... cintaku,....pada doamu

ya...cintaku, aku kan kembali membawa bulan di pinggan...

hanya untukmu...



22/09/11

Deja Vu

Pertama kali kucuri wajahmu dari sudut mataku
Saat itu kau hadirkan Monalisa di ranum kelopakmu
Ketika kucoba merengkuhmu dengan puisi yang kubawa bersanding bulan
Ada misteri di senyummu…ada tekateki di kerlingmu
Dan aku merasa mengenal warnamu
Aku akrab dengan aromamu…manis merayu
Di mana gerangan kita pernah bertukar pendar
Atau hanya di dalam lenaku ketika kau dikirim lewat tidurku
Mengakulah padaku duhai yang manis…
Bukan tentang dari mana dirimu…
Bukan cerita siapa namamu…
Katakanlah bahwa kau ada untukku.



011011

Pengikut

Buble