Sabtu, 29 Oktober 2011

Labirin Hati

desaklah aku untuk buatmu berpeluh walau batu menindih ragaku

menarilah liukkan siluetmu walau birahiku enggan meronta

biasakanlah itu duhai perempuanku

agar 'ku sadar dari kembaraku yang liar, titisan dendam...

dan kau alpa mengetahuinya jua 'ku lihai menguncinya tujuh lapis tujuh di bilikku

yang tiada pernah kau kubiarkan menjadi "jaka tarub terhadap bidadari khayangan"

aku itu lihai...duhai perempuanku maka kumohon:

desaklah aku buatmu berpeluh walau bibirku bisu bergurau

menyanyilah dengan jiwamu dari sudut perapian kita

dengan lembut tanpa memekak

seperti yang kusuka- kaupun tahu itu-

biarkan aku berjinjit menghampirimu seperti pencuri

karena nyanyianmu lamat lamat laksana perawan di tengah hutan

kau tahu aku suka itu...

kumohon....duhai perempuanku pasung saja aku!  dengan jimat cintamu

biar 'ku belajar mengerti tentang rusuk yang hilang

tentang sebentuk daun keladi yang kau sajikan dengan ketulusan

biar ku damai meniti hari bersamamu

di jalan setapak rintisan kita menuju pardis impian

perempuanku...

berkemaslah sigap

bawa serta buah hati kita, sebelum matahari meninggi...



 (medan 230711)

Hujan Cinta...

Bagaimana aku menyongsongmu cinta...



Lihatlah...diluar belum aman, runcing hujan masih menghujam, ramai...



gluduk gerobak atlas gledak -gleduk menghardik, aku takut...



lampu potret empunya langit menyambar-nyambar, aku ngeri...



bersabarlah barang separuh lingkaran jarum panjang pengelana waktu



setelah itu aku merindu di sisi dagumu



kupastikan itu tanpa ragu, karena aku sungguh padamu



cinta...jangan lupa, jerangkan setanggi air cintamu...



tuk bilas rambut basahku, hangatkan aku yang rebahanmu



maniskan seteguk kopi di meja bundarmu



kubagi untukmu menjadi madu serupa diramu



cinta, janganlah jemu menantiku



karena di luar hujan masih merajam



bersabarlah seperempat lingkaran jarum panjang pengelana waktu



setelah itu aku merindu disisi dagumu.

(tempatkerja28/7/11)

Sesal

menangislah dengan sedih
agar terobat kesalmu
merintinhlah dengan pilu
sampai teriris jantungmu
usaikan sampai menjelang pagi
dan sambut mentari dengan hati yang sepenggal
biarkan potongannya meronta kepanasan
menahan sesal yang tak berujung
di ujung senja...
kan kau temui hati yang mengering
dipinggir jalan yang sunyi...
berharap waktu dapat kembali
(19/07/11)

Di Persimpangan Aku Memilih Pintu Gelap

Di persimpangan aku terpasung sepi

berharap angin mengecup keputusan di telapak kaki

mengayun hati pada ilalang bergoyang

namun bumi enggan bergeming, hening...

Di persimpangan aku memelihara ombak

dada gemuruh meluruh menghanyutkan daun daun berlirik gundah

akan pilihan yang tak harus...

ada tabiat yang tak seperti  sungai, menolak muara, mencibir arus

Di persimpangan aku mendengar bisikan sekam

"hati pun bisa membusuk walau kau genggam...bukankah kau sipenikmat dunia?"

egoku akur mengangguk terasuk

naluri mencuri kesucian janji pada bunga-bunga

menuntun kaki yang teragitasi melangkah menuju...

lari, teruslah berlari wahai tungkai...songsong inginmu..!

menari, teruslah melentik wahai yang mimpi

jangan berhenti sebelum merengkuh...

kini gilirmu wahai jemari, melengkunglah laksa gelembung

ciptakan ketukan pada pintunya

temukan senyumnya yang dirilis misteri

rangkulnya bawaku ke dalam gelap lalu aku lenyap...

(medan/09/09/11)

Aku Ini Lelaki Wahai Bunga-bunga

Pergilah saja dari tamanku wahai bunga yang sombong karena aku bukanlah pencinta sejati

menjauhlah saja dari kebunku wahai kembang  wangi karena aku bukan penikmat yang berani

jangan pernah mengharap aku merawat karena aku tak bakat

tiada perlu engkau  menunggu karena aku tak punya waktu



Wahai bungabunga dengar ucapku

puas aku dengan tamanku yang ditumbuhi kembang tahi ayam walau baunya tak perawan

aku senang lidah buaya yang setia menjulur mujur seumurumur

atau masih kupunya bougenvil si rajin tekun memberi warna



Kini pergilah jauh, jangan kembali walau sekali

karena aku tak bermulut dua,  juga tak berkata sia

bahkan pabila semua bunga meranggas, aku tak cemas...

esok kuganti dengan kertas

atau pun emas...



15/08/11

Lelah Aku

Hasrat meronta pada senja menjelang langit runtuh

ketika geliat birahi tekun mencipta tarian resah penuh sesumbar

kutuk benak yang tak menuntun hati pada nyali

selalu kembali pada keputusan yang sekejap berbuah sesal

selekas angin bergegas, menera bekas

aku berputar pada perulangan yang menjemukan

meski pasrah tak diundang, jenuh berdendang pada daun-daun bimbang

senyum mengecam di bunga-bunga yang lelah menengadah

aku tak perduli...walau kutahu selalu kembali pada perulangan yang menjemukan

ya, menjemukan...

salahkan yang mencipta taksempurna

atau ulangi tempah aku pada pola tak bercela

seperti yang kau suka...



(05/09/11)

Balada Kata Kata

Ribuan 'kata' berlari panik berputar onar

 menabrak saling berbentur meronta hingar

tiap benturan beranak dua, juga tiga, atau tak terhingga...

tak bertata, juga tak mermakna...,telanjang, liar

tiap- tiap dari 'kata' ambisi berlomba...

temukan jalan untuk keluar dari kungkungan yang mulai kotor

oleh bangkai  'kata' yang gugur terkubur

yang terlepas tak juga bersyukur...

s'bab tak semua terdengar  menghibur

yang tertuang tak juga riang...

s'bab tak semua mendapat acung

hanya yang ikhlas senantiasa  tersenyum walau terlahir tanpa pujian

setidaknya akulah kata yang telah terlahir sebagai puisi yang kini ada di letterater

apresiasilah aku wahai Pembaca...dengan 'suka'  atau 'komentar' mu...

karena aku telah berjuang terlepas dari benak penulisku.
(medan,240711)

Letterater Vs Lateratur

Lateratur' dalam bahasa Karo (salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara) mempunyai arti/ makna ' Tidak Teratur '.  Yang berasal dari kata dasar La (Lang; Lahang) = Tidak  +  Atur (teratur) menjadi Lateratur yang artinya tidak teratur, atau tidak beraturan.

Sesungguhnya kata Lateratur tidak ada hubungannya sama sekali dengan Letterater (situs yang menjadi tempat favorit baru bagi para pencinta sastra, termasuk saya).  Mungkin saya saja yang  kurang kerjaan atau sedikit usil untuk membahas masalah yang bukan masalah ini. 

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dengan kehadiran Letterater telah membuka cakrawala baru bagi saya dan pencinta sastra Indonesia dimana telah lahir sebuah wadah untuk menyalurkan bakat-bakat terpendam di bidang sastra dan memacu tumbuhnya penulis-penulis baru dan pemula, dimana sebelumnya  tidak pernah berani untuk mengirimkan karya mereka ke surat kabar, majalah, atau tabloid karena merasa belum pantas, takut ditolak, atau bahkan merasa tidak percaya diri.  Yang mengakibatkan karya-karya yang sudah mereka buat tidak pernah teratur tersusun atau bahkan terbuang dan tercecer begitu saja.  Mungkin ini tidak berlaku bagi penulis yang sudah senior dan mapan, karena karya mereka justru selalu ditunggu oleh penerbit dan mendominasi seluruh media massa yang ada.

Kehadiran Letterater saya analogikan sebagai kehadiran sebuah lapangan bermain di tengah pemukiman kota yang padat dan sumpek.  Dimana seluruh masyarakat kota bisa datang untuk bermain di sana.  Tua, muda, profesional, maupun pemula semuanya bisa datang dan bermain sesuka hati dan memainkan permainan yang mereka sukai (dengan mematuhi aturan tentunya).  Datang untuk sekedar menonton juga boleh, memberikan komentar atas permainan orang-orang juga tidak salah, atau sekedar tamasya menikmati panorama lapangan sambil melihat-lihat orang yang hadir di sana juga tidak ada yang melarang.  Pokoknya komplitlah.

Letterater versus Lateratur, seperti judul tulisan ini kolerasinya adalah bahwa kehadiran Letterater telah mendobrak Lateratur (baca: ketidak beraturan) dimana karya - karya kita bisa tersusun dengan teratur dan terdokumentasi dengan baik.  Setiap karya kita, terlepas dari karya bagus ataupun 'ka-cang' (karya kacangan) semua punya tempat yang sama.  Tulis! Terbitkan! Hanya dalam hitungan detik setelah ENTER karya kita sudah bisa dilihat oleh para pembaca di seluruh Indonesia.  Bahkan saya merasakan dengan kehadiran Letterater hidup saya sedikit semakin teratur dari sebelumnya, dimana dari segi pemanfaatan waktu saya jadi termotivasi untuk lebih disiplin.  Misalnya jam - jam menjelang usai jam kerja di kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke situs ini, dan kalau mood lagi datang saya tuangkan menjadi sebuah puisi.

Sesungguhnya Letterater telah menjadi oase ditengah kerinduan orang -orang akan wadah untuk berkarya khususnya tulis menulis.  Tetaplah bergerak seiring dinamika perkembangan zaman melalui penyempurnaan fitur-fiturnya. Maju terus Letterater....!  Selamat tinggal Lateratur...!



14/08/11

Sesal Part II

Aku tahu tak ada maaf di pohon-pohon yang kambiumnya meleleh darah



tak pernah lekang dimakan waktu tetap tersisa membekas sekeras batu



tapi aku hendak bisikkan pada rerumput dan daun pandan bahwa aku menyesal di ujung kolam.



Berharap katak bawa genderang menyanding tokek...mengejek bahwa akulah pecundang



Kutahu tak terbayar pedihmu oleh sesalku walau kuhempas ragaku



Dijenjang maafmu, diujung nafasku kumohon: putihkan  warnaku agar tak lagi abu-abu monyet.



(30/07/11)

Balas Pantun

beli mangga sama kak haris
mangganya busuk protes buk Lili
Negara ini semakin menangis
karena generasi jarang peduli


beli jambu sama sulaiman
mau d bayar dompetnya ilang
generasi sekrang uda anak jaman
dia lupakan para pejuang (Safrida Novita)

beli mangga di pasar rawa
pohonya besar tempat keramat
jika ingin negara tertawa
lakukan karya dengan semangat (Noeel G)

Kau Dan Aku

Kau cipta banyak warna pada bunga-bunga



di setiap jejak yang kau gegas



merona...menebar aroma







tiada getar ketika bola mata saling mengincar



pada kelakar yang mekar di kuntum sesawi



tiada usai sebelum senja melerai







aku, kau : tak pernah sadar ada masa merayap bisu di sisi kita



menyeret kita pada tebing..



aku, kau : kini terjaga di garis waktu ketika kita tak bisa mengentikan detikdetiknya



terlambat aku sadar bahwa kau begitu berarti



saat kau harus kembali pada sebuah janji...







(Akan kunanti kau kembali sampai waktu menghilangkanku/bersama perulangan yang menjemukan)







Medan,21/08/11

Pantun Bijak

Bangau berenang di pagi hari

Punai bertelur di batang randu

Nenek berjanji di dalam hati

Membawamu selalu dalam doaku..(Kwkwkwkw….Noeel..please ! RD.Kedum)




Bebek bertengkar di bawah kayu

Tiriskan sagu diatas nampan

Nenek yang pintar dan banyak ilmu

Wariskan aku  cara membuat cerpen   (Jurus maksa ni Nek…Noeel G.)

Wahai Angin

wahai angin....jemputlah jiwa dan bawa ke tempat tertinggi...sejauh kau bisa



24 Agustus 2011 jam 09:59

Rindu

duh...rindunya rindu...pada gaun putihmu yang kau kenakan dulu ketika hatiku belum melebam...



04 September 2011 jam 11:56

Lelah Aku

Hasrat meronta pada senja menjelang langit runtuh

ketika geliat birahi tekun mencipta tarian resah penuh sesumbar

kutuk benak yang tak menuntun hati pada nyali

selalu kembali pada keputusan yang sekejap berbuah sesal

selekas angin bergegas, menera bekas

aku berputar pada perulangan yang menjemukan

meski pasrah tak diundang, jenuh berdendang pada daun-daun bimbang

senyum mengecam di bunga-bunga yang lelah menengadah

aku tak perduli...walau kutahu selalu kembali pada perulangan yang menjemukan

ya, menjemukan...

salahkan yang mencipta taksempurna

atau ulangi tempah aku pada pola tak bercela

seperti yang kau suka...



(05/09/11)

Curhat

ketika aku terbang ke awan, seketika aku rindu bumi...

Bulan Di Pinggan

ku kan pergi sejenak meninggalkanmu

walau tak begitu jauh tapi ku yakin kan tercipta rindu

pada dinding hati yang berhias pigura senyummu

slalu sama seperti yang lalu ketika kuikrar aku padamu...



ku kan pergi sejenak meninggalkanmu

ketika langkahku dua deva, bisikmu menggema di telingaku

seperti biasa kau semat jimat di getar nadi

agar ku lekas kembali...



ya...cintaku,...untuk pintamu

ya... cintaku,....bagi harapmu

ya... cintaku,....pada doamu

ya...cintaku, aku kan kembali membawa bulan di pinggan...

hanya untukmu...



22/09/11

Deja Vu

Pertama kali kucuri wajahmu dari sudut mataku
Saat itu kau hadirkan Monalisa di ranum kelopakmu
Ketika kucoba merengkuhmu dengan puisi yang kubawa bersanding bulan
Ada misteri di senyummu…ada tekateki di kerlingmu
Dan aku merasa mengenal warnamu
Aku akrab dengan aromamu…manis merayu
Di mana gerangan kita pernah bertukar pendar
Atau hanya di dalam lenaku ketika kau dikirim lewat tidurku
Mengakulah padaku duhai yang manis…
Bukan tentang dari mana dirimu…
Bukan cerita siapa namamu…
Katakanlah bahwa kau ada untukku.



011011

Tobat

Aku ditengah hujan mengharap air berubah dirimu

menyelusup liar di lekuk tubuhku hingga aku menggigil riang

meresap tak bersekat mengendap sampai ke tulang

hingga dingin serasa berdiang pada kelambu jiwa yang menenteramkan

tiada keraguan pada senyummu

tiada kemarahan di sinarmu

kau jerang semua yang kau punya tanpa kesah tanpa desah...

bukan pilihan untuk mengabdi namun setia adalah janji 

kau hunjuk bukti pada putaran harihari

menanti ku kembali mencium ujung jemari

sesaat selepas hujan...

berharap 'ku temukanmu

pada basah tubuhku...

pada kuyup rambutku...

walau kutahu kau  jauh kini...

'kan tetap kunanti hingga kau datang menyeka...

pada basah dan luka jiwa...



(cinta...aku ingin kembali...walau dalam basah parah...

  terimalah aku, takkan kuulang walau sekali...janji  tobatku tak tobat cabai...tapi      tobat   tahi ayam)

dedicated to  'U'

4/10/11

Senja Kiamat

Masih kusimpan gambar sebuah pondok tua tidak mencolok di sudut memori
membumi di pinggir tebing  curam  menggelayut di kaki bukit
di sana tersimpan sejuta kenangan masa kecilku
uriku tertanam di pojok pekarangannya yang menjelma menjadi helai daun serai mewangi
                                                                    
                                                                        2
Tak kupercaya Ibuku hanya memiliki sepasang tangan gemulai merajut setiap sudut
hingga tersulam keindahan di setiap sisinya saat kabut ringan masih memagut
ku bangga pada ayah yang selalu gigih menyisir lereng bukit sampai ke sungai kecil
mengumpul saji menyongsong mentari bahkan sebelum aku terjaga
                                                                      
                                                                         3
Enggan aku membuka mata setiap kali semua hadir diujung malamku
pada lelap yang memaksa raga menyerah pasrah menyanding dengkur mengguntur
ingin kumurka mentari yang hadir terlalu dini mengoyak mimpi
hasrat kubunuh perempuanku yang rajin menghardik membakar pagi
                                                                       
                                                                          4
Kini ku harus menyongsong kosong...
pada gorong-gorong di ujung lorong sekedar temukan segenggam bekal
untuk buah hati yang menanti harap kubawa banyak
pada senja aku pulang menyanding kiamat...

08/10/2011

Berbalas Pantun

Hitam warnanya si air kopi

akan manis di tambah gula

miskin dan papa kita hadapi

anggap saja pintu surga (RD.Kedum)





jika gula manis rasanya

seduhkan dia di gelas biru

jika miskin pintunya surga

temukan dia di telapak kaki ibu (Noell G)



jika minum dari gelas biru

elok lah di minum di tepi pantai

jika surga memang di telapak kaki Ibu

pengorbanannya baiklah dihargai (Huta Baringin)



Duduk di pantai berlaut biru

ambil kelapa minum berdua

mari sayangi ayah dan ibu

pasti kita akan masuk surga (RD.Kedum)



melintas sawah penyu berjalan

membawa bunga pada punggungnya

menyayang ayah ibu adalah kewajiban

mari lakukan dengan penuh cinta...(Noeel G.)

Jenuh

jenuhku seperti gula di air tebu...sungguh mengenyangkan....kemana harus ku tawarkan rasa agar sedikit berasa garam atau bahkan asam hingga mengoyak bejana atau harus bunuh semua rasa agar tiada berasa...ufffff....sesak aku....



10 Oktober 2011 jam 06:37

Pantun Nasehat

Sari timun banyak vitaminnya
Bisa membuat dahaga plong
Carilah teman sebanyak bisa
Bila tersesat ada menolong

x

Mencari Permaisuri

akulah pangeran yang mencari permaisuri bertubuh puisi



untuk kusanding sebagai rajahan katakata



pada tiap jengkal lekuk eloknya



hingga tercipta birahi sepanjang malam



menjelang pagi kucumbu dia dengan nyanyian



ketika siang kudekap dia dengan sajak



pada senja kupastikan menjelang puncak



sampai tambun rahimnya oleh distikhon, tersina, quantrin, quin, sextet, septima, stanza dan sonata...



tapi aku masih pangeran yang tak kunjung uzur



karena tak puas aku pada satu permaisuri



kan kucari lagi dayang berparas puisi...







tengahmalam,12/10/2011

Loe, Gue, End...

Pagi menggigil kerontang mengemas kegetiran

Seusai debat kita di ujung malam

Bungkuslah hati dalam timpus sembilu

Karena tak sempat kita lipat kelebat  kenangan ketika fajar mengetuk pintu

Masih tersisa senggukmu tersekat di ujung trakea mengisak keputusan dengan terbata

Tak usai kita mengeja seluruh kata karena ego meraja

Walau patah tongkat berjeremang, tak juga hati bersua hingga jenuh melepuh

Cintaku …mari kita berangkat berjingkat dipandu emosi....



Engkau ke timur aku ke barat...



Sebelum banyak tingkap menguak  mengintai pigura  pecah bergambar kita



Sebelum burung berkicau tentang cinta, karena kita sudah tak punya...

Jangan hirau mawar kita yang akan mekar di sudut taman

Karena semua telah usai…







(Cinta... jika takdir berkata lain, di jalan ini kita akan berjumpa lagi...)



recycle@noeel"Kamu, Aku Berakhir"4102011

Pantun Bersedih

melati memang warnanya putih
dirangkai satu gantung di dinding
hatiku hancur semakin sedih
melihat kekasih duduk bersanding (R.D. Kedum)

daun selasih tumbuh di tebing
pakailah cangkul cari umbinya
biarkan kekasih duduk bersanding
tetaplah senyum cari gantinya...(Noeel G.)

Pencarian

kumulai pencarian sebentuk nisbi
yang tak kukenal wujudnya
kaki kiri atau kanan naif mengayun
hati tak membimbing
tujuan tak mengerucut pada selesa
yakin satu
temukan batu
pecahkan isi kepalaku...

x

Pantun Galau

bebek berenang di air payau
airnya keruh banyak lumpurnya
kalau hatiku sedang galau
hendak kemana kucari obatnya? (Noeel G.)

Induk itik mandi di danau
berenang ke tepi basah bulunya
jika hati terasa galau
bermain cinta itu obatnya   (Nuzul Kurniawan)

Itik berenang di halau angsa
ayam betina mengais papa
bagaimana hati tak galau dan putus asa
hendak bercinta dengan siapa? (Noeel G.)
         

Kau

Hatiku jengah menghampirimu

ketika mataku mencuri pipimu dan jenjang lehermu meluluhkan seluruh keakuanku

sisa malamku habis melarung bersama hadirmu yang kian masif di pusat saraf

kucoba basuh di sendang galau, namun...

tarianmu semakin mencipta gilaku

menyeret sukmaku pada labirin

mengasuh obsesi setinggi bulan

semua bintang kau himpun di bola matamu hingga langitku menjadi gelap

matahari mengikutimu jadikan bumiku redup tanpamu

angin menunggu petikan jarimu

lalu siap menghempasku ke palung sunyi

kumohon...

jangan lakukan itu

karena akulah pemujamu yang setia menyanyikan ode untukmu

ya...hanya untukmu

pada lirik dan senandung jiwa yang coba singkirkan elegi

tiruslah kau menuju jiwa

sampai lena aku pada dekapmu...

Sajak Abrakadabra

Secepat kilat aku melesat tak berjejak

kusongsong langit membelah awan

kusikat penjahat yang asyik merebak

aku menjadi superman



Seketika aku mendarat apik

di pusat keramaian gadisgadis

mereka menjulurkan lidah serakah menjilatjilat

karena akulah don juan menjelma sebagai bradpitt



bosan aku dengan gincu palsu

terbang aku melayanglayang

retas segala yang menghalang

kujelang segala keindahan

kini ku jadi kupukupu



kuhunus pedang sebentuk godam

tiada tanding kekar berlengan

kupuaskan bunga setaman

hingga terkulai matanya lebam



kusingkir semua yang coba menghalang

melaju cepat laksana angin

manuver cantik meliukliuk

aku sebagai marcosimoncelli

kutebas semua tanpa peduli

seketika aku terlempar lalu tersadar

terkapar aku di bawah ranjang...



(mimpiabrakadabra24/10/11)

Kau (...kah Itu?)

Kuterima kiriman rindumu dengan utuh pada angin sepoisepoi
berwujud nafas yang hangat di pucuk hidungku
kuendus dan meresap sampai ke hati
kuteliti tekun di rongga dada sebentuk setia yang pernah kau janji pada daundaun
bahwa jiwa tak pernah menua
bahkan saat mentari kehilangan pijarnya
kuharap kau mau ulangi jejak kita yang usang
pada malam ketika mata kita bersirobok lekat tak bersekat
pada pagi saat kau seka bulir bening di sudut keningku
tak lekang aromamu manis merebak di taman samping
tiada jemu kureka hingga raga merebah pasrah
dan kutemukan kau ternyata masih jauh
seketika...
desah rumpun bambu menertawakanku

(malampenantian261011)

x
www.letterater.com

Follow by Email

Pengikut

Buble