Sabtu, 29 Oktober 2011

Letterater Vs Lateratur

Lateratur' dalam bahasa Karo (salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara) mempunyai arti/ makna ' Tidak Teratur '.  Yang berasal dari kata dasar La (Lang; Lahang) = Tidak  +  Atur (teratur) menjadi Lateratur yang artinya tidak teratur, atau tidak beraturan.

Sesungguhnya kata Lateratur tidak ada hubungannya sama sekali dengan Letterater (situs yang menjadi tempat favorit baru bagi para pencinta sastra, termasuk saya).  Mungkin saya saja yang  kurang kerjaan atau sedikit usil untuk membahas masalah yang bukan masalah ini. 

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa dengan kehadiran Letterater telah membuka cakrawala baru bagi saya dan pencinta sastra Indonesia dimana telah lahir sebuah wadah untuk menyalurkan bakat-bakat terpendam di bidang sastra dan memacu tumbuhnya penulis-penulis baru dan pemula, dimana sebelumnya  tidak pernah berani untuk mengirimkan karya mereka ke surat kabar, majalah, atau tabloid karena merasa belum pantas, takut ditolak, atau bahkan merasa tidak percaya diri.  Yang mengakibatkan karya-karya yang sudah mereka buat tidak pernah teratur tersusun atau bahkan terbuang dan tercecer begitu saja.  Mungkin ini tidak berlaku bagi penulis yang sudah senior dan mapan, karena karya mereka justru selalu ditunggu oleh penerbit dan mendominasi seluruh media massa yang ada.

Kehadiran Letterater saya analogikan sebagai kehadiran sebuah lapangan bermain di tengah pemukiman kota yang padat dan sumpek.  Dimana seluruh masyarakat kota bisa datang untuk bermain di sana.  Tua, muda, profesional, maupun pemula semuanya bisa datang dan bermain sesuka hati dan memainkan permainan yang mereka sukai (dengan mematuhi aturan tentunya).  Datang untuk sekedar menonton juga boleh, memberikan komentar atas permainan orang-orang juga tidak salah, atau sekedar tamasya menikmati panorama lapangan sambil melihat-lihat orang yang hadir di sana juga tidak ada yang melarang.  Pokoknya komplitlah.

Letterater versus Lateratur, seperti judul tulisan ini kolerasinya adalah bahwa kehadiran Letterater telah mendobrak Lateratur (baca: ketidak beraturan) dimana karya - karya kita bisa tersusun dengan teratur dan terdokumentasi dengan baik.  Setiap karya kita, terlepas dari karya bagus ataupun 'ka-cang' (karya kacangan) semua punya tempat yang sama.  Tulis! Terbitkan! Hanya dalam hitungan detik setelah ENTER karya kita sudah bisa dilihat oleh para pembaca di seluruh Indonesia.  Bahkan saya merasakan dengan kehadiran Letterater hidup saya sedikit semakin teratur dari sebelumnya, dimana dari segi pemanfaatan waktu saya jadi termotivasi untuk lebih disiplin.  Misalnya jam - jam menjelang usai jam kerja di kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke situs ini, dan kalau mood lagi datang saya tuangkan menjadi sebuah puisi.

Sesungguhnya Letterater telah menjadi oase ditengah kerinduan orang -orang akan wadah untuk berkarya khususnya tulis menulis.  Tetaplah bergerak seiring dinamika perkembangan zaman melalui penyempurnaan fitur-fiturnya. Maju terus Letterater....!  Selamat tinggal Lateratur...!



14/08/11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Buble