Jumat, 06 Januari 2012

Lelaki Penghalau Burung

 Bergegas kita pulang menuju desamu di penghujung tahun

aku tahu bulirbulir emas dan daun padi sudah menyambut kita di alunalun

aku terbayang gemericik air dan nyanyian jangkrik riuh rendah

ya, juga angin tahun baru sudah mendahului kita sampai di pondok kecil

membawa tawa dan gema sumringah di daundaun



tapi kemana gerangan lelaki penghalau burung

yang setia menera jejak

pada bentangan pematang sawah

setiap kali tak alpa menjerang ikanikan di kolam harmoni

pada malamnya kita debatkan ramuan bumbunya:

tentang dekke naniura* yang kecut meringis

tentang gulai entok yang menarik lidah kita sampai ke siku

atau tentang segelas tuak yang menggelegak di ubunubun

berparade imaji kita hingga menjelang pagi



dimana gerangan lelaki penghalau burung

tak kutemukan di garis pematang

tak jua menyapa di sisi lumbung

uff...

sesaknya dada

asap panggangan tahun  lalu masih mendekam

menyedak dalam sampai ke hati

karena dia pergi tak pernah kembali seperti air meninggalkan pancuran

dimanakah bermuara kenangan yang siasia



tiada impas hati merindu

takkan berarti seikat krisan

juga setangkai gladiol putih

yang 'kan kusemat di sisi nisan.

di kejauhan, orangorangan sawah melambaimelambai.



31 Desember 2011.



*dekke naniura : makanan khas Batak Toba (ikan mas yang dibumbui dan dimasak dengan asam tanpa api)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow by Email

Pengikut

Buble